Hubungan Antara Masalah Emosi dan Reaksi Kulit Melalui Psychodermatology

 

 

Banyak faktor yang dapat menjadi penyebab kulit menjadi bermasalah, mulai dari faktor lingkungan, kebersihan, hingga makanan yang kita konsumsi. Selain itu, ada lagi 1 faktor yang memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan kulit, yaitu faktor emosi dan tingkat stres. Meskipun tidak terasa langsung, kulit dan pikiran memiliki koneksi yang kuat, lho! Hubungan antara masalah emosi pikiran dan kulit dibahas dalam suatu bidang pengobatan baru yaitu psychodermatology. Simak penjelasannya di bawah ini, ya!

Hubungan Otak dan Kulit

Tak hanya dapat mengganggu otak, emosi juga dapat memicu reaksi dari kulit. Sebagai organ tubuh terbesar yang dimiliki manusia, kulit memiliki imun yang dapat dipengaruhi oleh otak dan sistem saraf melalui receptor. Makanya, apa yang kita rasakan sering kali akan ikut terpancar melalui kulit.

Reaksi yang paling mudah dirasa adalah saat merasa malu, pipi kita sering kali berubah warna menjadi kemerahan. Hal itu disebabkan karena saat kita malu, tubuh merilis hormon adrenalin yang dapat membuat pembuluh darah kita melebar. Akibatnya, darah mengalir lebih banyak dari biasanya dan menyebabkan kemerahan pada pipi. Selain itu, masih banyak lagi reaksi kulit terhadap berbagai macam emosi yang manusia rasakan dan tidak semua emosi menimbulkan reaksi yang sama pada kulit.

Hubungan Antara Masalah Emosi dan Reaksi Kulit


Kulit memiliki reaksi yang berbeda-beda terhadap emosi yang dirasakan. Jika kamu tiba-tiba mengalami beberapa penyakit kulit ini dan tidak kunjung sembuh, mungkin permasalahannya ada di pikiran kamu. Berdasarkan psychodermatology, berikut ini adalah beberapa jenis emosi dan pengaruhnya pada kulit.

  • Tekanan stres yang baru meningkat: eczema, psoriasis, jerawat. Ketika seseorang mengalami stres, tubuh akan mengalami reaksi kimia yang membuat kulit menjadi lebih sensitif dan reaktif. Masalah kulit yang timbul saat stres juga akan membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh. Selain itu, kadar hormon kortisol pada tubuh juga akan meningkat. Peningkatan hormon kortisol dapat menyebabkan meningkatnya produksi minyak pada kulit yang dapat memicu tumbuhnya jerawat. Stres juga bisa menimbulkan reaksi pada kulit berupa eczema dan psoriasis.

 

  • Kemarahan ekstrem: kaligata, gatal-gatal, inflamasi. Reaksi kulit yang ditimbulkan akibat kemarahan antara lain adalah kaligata, gatal-gatal, dan inflamasi. Reaksi ini muncul dengan tiba-tiba dan berlangsung selama kurang lebih satu jam. Terkadang, reaksi ini datang dan pergi berulang kali dalam hitungan minggu atau bulan. Kemarahan juga dapat memperlambat kemampuan kulit untuk memperbaiki ‘diri’-nya sendiri, mempercepat munculnya keriput, dan bintik hitam.

Jenis Emosi dan Pengaruhnya Pada Kulit

 

  • Anxiety: ruam kemerahan. Anxiety dapat memberikan tingkat stres yang tinggi pada tubuh dan mempengaruhi tubuh dengan berbagai cara, salah satunya adalah menimbulkan ruam pada kulit. Orang yang menderita anxiety juga sering kali berkeringat dan keringat inilah yang dapat memicu ruam. Meskipun tidak berbahaya, ruam kemerahan membutuhkan waktu setidaknya 2 minggu untuk sembuh. Anxiety juga dapat memperparah penyakit kulit yang sudah diderita sebelumnya.

 

  • Stress kronis: kulit sensitif, dehidrasi, kering. Tingkat stres yang tinggi dapat menyebabkan kulit menjadi dehidrasi dan menjadi lebih sensitif. Hal ini disebabkan stres yang dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk memproduksi kolagen baru yang berfungsi untuk mengikat molekul air pada kulit. Tanpa kolagen baru, kulit dapat menjadi lebih tipis dan lebih lemah. Selain terlihat tidak segar dan terasa tidak nyaman, kulit yang dehidrasi juga kehilangan kemampuannya untuk memperbaiki diri setelah mengalami kerusakan.

 

  • Depresi: kulit kering, pecah-pecah, kusam. Stres akibat depresi dapat memicu hormon kortisol yang memperlambat regenerasi sel kulit sehingga sel kulit mati akan menumpuk di permukaan kulit dan memberikan tampilan yang kusam. Kulit yang stres juga memiliki tingkat lipid barrier yang rendah sehingga kulit tidak bisa menyerap cairan dengan baik. Akibatnya kulit menjadi kering dan jika tidak segera ditangani, kulit juga berisiko mengalami pecah-pecah.